4 Adab Hutang Piutang Dalam Islam

Ada adab tersendiri dalam hal hutang piutang dalam Islam yang harus diketahui dan dipahami serta dijalankan tanpa kompromi. Dalam agama Islam ada banyak hal yang harus diperhatikan dan menyangkut banyak aspek dalam kehidupan. Termasuk pula di dalamnya ada beberapa pemahaman khusus yang berhubungan dengan kegiatan hutang piutang. Ada lebih banyak kelebihan yang diberikan dalam syariah Islam agar terjalin hubungan yang saling menguntungkan. Ketika dilakukannya kegiatan pinjam dan meminjam sejumlah dana sesuai dengan kesepakatan pihak terkait.

Adab Berhutang dalam Pandangan Islam

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum seseorang memutuskan untuk mengajukan pinjaman ke saudaranya, diantaranya adalah:

  1. Dalam kondisi terdesak untuk berhutang,

Rasulullah suatu ketika enggan mensholatkan jenazah karena yang meninggal tersebut masih memiliki hutang yang belum terselesaikan. Menyikapi hadist ini, maka dalam Islam Kita diwajibkan dalam kondisi yang terpaksa untuk menempuh jalur tersebut. Sebab pertanggung jawaban hutang akan dibawa hingga ke akhirat hingga dibayarkan atau yang memberi hutang mengikhlaskan.

  1. Memiliki niat untuk mengembalikan hutang tersebut,

Sebelum berani mengajukan pinjaman, sebaiknya memiliki niat yang teguh dan kuat untuk bisa mengembalikannya tepat waktu. Diharapkan dengan adab ini kedua belah pihak berada pada posisi yang mendapatkan keuntungan. Dari sisi peminjam, akan mendapatkan sejumlah dana guna menyelesaikan masalah pendanaan yang dihadapi. Kemudian dengan niat yang baik untuk segera mengembalikan hutang tersebut, pihak pemberi pinjaman. Tidak akan terlalu berat dalam menunggu kapan uang yang menjadi haknya dikembalikan. Apabila si peminjam hendak menggunakan dana tersebut bisa segera dilakukan untuk kebutuhannya sendiri.

  1. Menghadirkan saksi saat serah terima pinjaman,

Saat hendak mengajukan pinjaman sebaiknya Kita membawa saksi yang melihat langsung dan mencatatnya dalam bentuk perjanjian tertulis. Adanya pihak ketiga sebagai saksi ini akan menjadikan transaksi hutang lebih aman bagi kedua belah pihak. Jumlah uang yang dipinjam, kapan terjadinya transaksi tersebut, dan dimana diserahkan akan tercatat dengan jelas. Ketika suatu ketika ada salah satu pihak yang terlupa maka akan ada pihak yang mengingatkan dan dalam posisi yang netral. Yakni tidak mendukung salah satu pihak dan memberikan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan.

  1. Pemberi pinjaman tidak menarik keuntungan,

Sekarang ini semakin banyak orang yang memberikan pinjaman namun minta dikembalikan dengan menambahkan bunga pinjaman. Tindakan ini sama halnya dengan melakukan transaksi riba yang termasuk ke dalam perbuatan yang haram. Menjaga agar selalu jauh dari perbuatan haram maka sebaiknya paham benar bagaimana Islam menyikapi transaksi hutang. Yakni dengan tidak menarik keuntungan sepeser pun dari uang yang telah dipinjamkan kepada saudaranya. Adab ini akan menjadikan hutang piutang dalam Islam mampu dijalankan dengan baik.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *