Faktor Menguat dan Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Nilai tukar Rupiah kembali mengalami penguatan terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) selama beberapa hari berturut-turut. Berawal dari angka Rp 14.179 per Dolar AS, bahkan di pasar spot Rupiah telah beradal di kisaran Rp 13.900-an. Pada bulan Oktober, Rupiah sudah menguat hingga 5%, hal tersebut merupakan gebrakan baru sejak tahun 2013. Tak heran jika banyak investor asing yang semakin marak meramaikan perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Dilansir dari indormasi yang dihimpun oleh beberapa media dari para pelaku pasar keuangan, terdapat empat faktor yang menjadi penyebab dari kenaikan kurs Rupiah pada saat itu. Faktor pertama adalah adanya permintaan kepada PT Pertamina (Persero) untuk mengurangi pembelian Dolar Amerika Serikat. Pengurangan tersebut tentunya tidak dalam jumlah kecil, namun dalam jumlah besar. Pasalnya memang Pertamina sendiri selalu membutuhkan pasoan dolar AS dalam jumlah yang besar.

Faktor yang kedua adalah pelemahan Dolar AS yang merupakan dampak dari realisasi data tenaga kerja dan manufaktur di Amerika Serikat yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Hal tersebut menyebabkan Dolar AS melemah tidak hanya terhadap Rupiah, namun juga pada mata uang dari negara-negara lain. Faktor yang ketiga adalah BI memanfaatkan momentum pelemahan Dolar terhadap mata uang di berbagai negara dengan melakukan intervensi melalui pelepasan cadangan dolarnya. Akibatnya, rupiah yang selama beberapa waktu terakhir terus melemah, kini menguat.

Faktor yang keempat yang menyebabkan menguatnya nilai tukar Rupiah adalah karena terkair informasi seputar masuknya dana asing dalam jumlah yang besar melalui pasar modal. Salah satu pemicunya adalah terkair dengan rencana penerbitan saham baru (rights issue) PT HM Sampoerna Tbk snilai hampir 21 triliun Rupiah.

Berkat aksi dari korporasi tersebut memiliki dampak positif yang sangat signifikan terhadap kurs Rupiah, jika mayoritas pembeli saham baru dari salah satu produsen rokok terbesar itu adalah pemodal asing. Sebab, mereka akan membawa Dolar Amerika Serikat dari luar negeri dalam jumlah yang besar untuk ditukarkan dengan Rupiah. Berhubungan dengan aktivitas investor asing tersebut, Saktiandi Supaat, Head of Foreign Exchange Research Malayan Banking Berhad, mengatakan bahwa sudah ada sekitar 1,62 triliun Rupiah dana asing yang memindahkan portofolionya dari Surat Utang Negara ke pasar saham.

Perpindahan tersebut membuat tingkat imbal hasil (yield) obligasi negara turun sekitar 24 basis poin sampai 53 basis poin. Ia mengatakan bahwa mereka yakin ada aliran dana yang masuk yang signifikan ke pasar surat utang pemerintah sebagaimana dapat dilihat dari turunnya tingkat imbal hasil pada hari sebelumnya.

Faktor Menguat dan Melemahnya Nilai Tukar Rupiah

Pertamina sendiri memang merupakan pengguna Dolar AS terbesar, yakni mencapi US$ 70 juta sampai dengan US$ 80 juta setiap harinya. Dana tersebut dipakai untuk mengimpor minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Kebutuhan dolar AS yang tinggi tersebut menjadi salah satu penyebab nilai tukar Rupiah yang melemah.

Menurut Vice President for Corporate Communication Pertamina, Wianda Pusponegoro, Pertamina akan mengurangi pembelian Dolar Amerika Serikat dari pasar spot. Perseroan akan memenuhi kebutuhan dolarnya melalui skema hedging atau lindung nilai dengan perbankan. Direkrur Keuangan Pertamina, Arief Budiman sendiri mengata bahwa Pertamina telah melakukan hedging terhadap 20% kegiatan transaksinya. Selain dari hedging, Pertamina juga akan menggandeng pihak ketiga dalam pengadaan minyak mentah dan BBM. Nantinya, swasta yang tertarik untuk memasok minyak dan BBM tersebut harus memiliki fasilitas penyimpanan atau tangki timbun di dalam negeri.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *